A. RENCANA PEMBANGUNAN
Pembangunan bidang perhubungan pada hakekatnya bertujuan, (1) untuk membuka isolasi daerah Kecamatan dan Desa, (2) menyediakan dan memelihara fasilitas jalan, jembatan, pelabuhan, lapangan udara, serta terminal untuk memberi kemudahan bagi proses angkutan orang dan barang dalam rangka mengupayakan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, (3) menciptakan suasana disiplin, rasa aman, saling menghargai dan tertib berlalu lintas bagi masyarakat pengguna jalan. Beberapa program bidang perhubungan di Kabupaten Indragiri Hilir yang akan segera dilaksanakan;
I. Menyelesaikan pembangunan Bandara Tempuling
Hingga saat ini telah disiapkan lahan seluas 172 hektar.
Telah selesai dibangun Runway (landasan pacu) sepanjang 900 meter, dan untuk dapat didarati pesawat Riau Air Line (RAL) masih perlu ditambah 400 meter lagi dan sekarang dalam proses pengerjaan.
Dalam waktu dekat sisi darat juga akan dibangun, sehingga pada tahun 2006 ini Bandara Tempuling dapat segera dioperasionalkan.
Latar Belakang
Perencanaan Bandar Udara Tempuling merupakan upaya Pemerintah Daerah Indragiri Hilir untuk membuka isolasi daerahnya. Menyikapi konsekuensi arus globalisasi dan persaingan antar daerah maka sarana transportasi udara yang representatif dan signifikan sifatnya sudah dirasa urgent demi membawa pengaruh terhadap moda perekonomian daerah.
Tujuan
Bandar Udara Tempuling diharapkan dapat memperlancar arus sirkulasi barang dan manusia dari dan ke Indragiri Hilir sehinga dapat meningkatkan aktifitas perekonomian sehinga dapat meningkatkan aktifitas perekonomian (bisnis) juga sektor pariwisata dan pemerintahan.
Pada Jangka panjang diharapkan dapat membuka isolasi daerah karena memperpendek waktu jarak tempuh sehingga informasi tentang investasi potensi daerah menjadi terbuka dan mengundang investasi
Mengangkat Citra daerah yakni dengan posisi dan kapasitas Bandara sebagai Landmark. Kekuatan karakter bangunan dalam komposisi fungsi dan estetika menjadi landasan bagi eksistensi Bandara. Paduan bentuk-bentuk berkonteks nilai-nilai Melayu, Islam dan Modern menjadi kunci filosofi makna yang abadi.
II. Percepatan Fungsionalisasi Pelabuhan Samudera Kuala Enok
Pelabuhan ini terletak di perairan Sungai Sapat Dalam dan dibangun dengan tujuan sebagai Outlet dan Inlet wilayah Riau bagian selatan dan Jambi. Belum berfungsinya pelabuhan ini akibat masih ada beberapa ruas jalan dan jembatan yang merupakan akses ke pelabuhan belum selesai dibangun, diantaranya;
Lima buah jembatan dengan panjang lebih kurang 120 meter dengan anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp. 7,8 Milliar.
Peningkatan jalan (awcaes) Bagan Jaya – Kuala Enok sepanjang 31 km dengan anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp. 20,8 Milliar.
Peningkatan jalan (hotmix) Sungai Akar – Bagan Jaya sepanjang lebih kurang 74 km yang membutuhkan dana sebesar Rp. 74,5 Milliar.
Dibangunnya Pelabuhan Samudera di Kuala Enok karena memiliki kriteria sbb :
III. Pembangunan Pelabuhan Nasional Pulau Burung
IV. Pembangunan Prasarana Jalan dan Jembatan
1. Jalan Propinsi
2. Jalan Kabupaten
3. Pembangunan jalan Guntung – Sokoi
Pembangunan ruas jalan ini untuk membuka dan mempercepat pembangunan Pelabuhan Nasional Pulau Burung yang mempunyai aksesibilitas ke Batam, Karimun, Singapura, dan Malaysia.
Jalan Sungai Guntung – Sokoi sepanjang 28,5 km, perencanaannya dimulai tahun 2002, pembangunan fisik berupa jalan tanah dimulai Tahun Anggaran 2003 sepanjang lebih kurang 17,5 km, dan pada Tahun Anggaran 2004 dilaksanakan sepanjang lebih kurang 11 km dengan didanai APBD Kabupaten
Pada Tahun Anggaran 2005 melalui APBD Propinsi telah dialokasikan dana sebesar Rp. 25 Milliar.